Tahun baru Hijjiyah telah tiba, tanpa terasa satu tahun telah berlalu banyak peristiwa telah kita lalui dan alami ada kegembiraan ada pula kesedihan yang semua itu menjadikan kita tetap hidup karena kita selalu berharap hari-hari mendatang akan hadir menjadikan kita lebih baik.
Saya coba sampaikan penjelasan Syaikh Ibn Jibrin.Berikut keterangan beliau :
Alhamdulillahirobbil ‘aalamin.Shalawat serta salam semoga tercurah kepada semulia-mulia para Rasul.Sesungguhnya tahniah adalah kabar gembira dan senang dengan segala sesuatu yang menggembirakan jiwa-jiwa yang berbahagia dengannya.
Adalah dulu Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam memberitakan kabar gembira kepada sahabat-sahabatnya akan kedatangan bulan Ramadhan.Maka inilah petunjuk (dalil) akan kebolehan ucapan kebahagiaan dengan apa yang senang dengannya dalam urusan dunia dan akhirat.
Maklum adanya bahwa Tahun Baru membawa kebahagiaan dan kesedihan.Rasa bahagia dengan telah genapnya satu tahun penuh yang terisi dengan keistiqomahan dan keteguhan diatas agama dan juga rasa aman, kesehatan dan kehidupan bahagia,selama setahun penuh, maka atas keadaan ini maka bertahniah dengannya dan mendoa’akan sebagian mereka kepada sebagian lain dengan ucapan kehidupan yang baik, panjang umur diatas ketaatan.
Adapun rasa sedihnya (ketika datangnya tahun baru) adalah bahwa berlalunya tahun-tahun itu semakin mendekatkan kita kepada ajal dan memangkas umur kita.Keadaan seperti alhamdulillah ada keterangan bahwa Rasulullah ketika melihat hilal bulan baru berkata :
الحمد لله على طول الأعمار والتردد في الآثار، الحمد لله الذي أذهب عنا شهر كذا وآتانا من شهر كذا
Maka demikianlah juga dalam tahun tahun yang berlalu, karena tahun lebih panjang rentang waktunya (dari bulan).Maka bersyukur memuji Allah karena dapat mendapati pergantian tahun tersebut sebagaimana melalui datangnya bulan Ramadhan dan saling menyelamati sesama saudara muslim dengannya dan saling bertahniah dan mendoakan keberkahan pada waktu-waktu yang bahagia seperti saat masuknya Ramadhan, hari Raya Islam dan semisalnya seperti dengan ucapan “Selamat semoga tahun ini membawa engkau kepada kebahagiaan” atau “Semoga Allah mengembalikan pada kita semisal tahun lalu yang berkah” Atau “Semoga keberkahan menyertai anda dalam tahun yang mudah-mudan penuh keutamaan” atau Semoga Allah menjadikan anda dari golongan yang kembali pada Nya” atau “Semoga sukses ditahun ini dengan keridhoan Allah ta’ala”.
Hal ini sebagaimana disyariatkanya do’a agar diterima setelah selesainya dari suatu ibadah dalam musim tertentu seperti haji dan umrah dengan ucapan misalnya “Taqobbalallahu hajjaka aw umrotaka”(semoga Allah menerima haji mu atau umrahmu) atau “semoga anda mendapati kebaikan atas haji mu” atau “Barakallah laka fi hadzal ‘amal ash-shalih” (Keberkahan atasmu atas amal shalih ini) atau “Semoga Allah jadikan haji mu sebagai amal shalih dan usaha yang diganjar” atau yang semisal..Allahu a’lam.
Ucapan-ucapan seperti ini teranggap dari do’a- do’a yang dianjurkan.Telah ada dorongan dalam mendo’akan sesama muslim terhadap saudaranya dalam event-event tertentu (munasabat) seperti kesembuhan atas penyakit, kedatangan dari safar, kelahiran anak,tahniah ketika memasuki awal ramadhan.Yang seperti ini tidak terlarang mengucapkan tahniah dengan hari raya,dengan kedatangan bulan Ramadhan atau dengan masuknya tahun baru.Ini dari sisi kebahagiaan dan senang dengan panjangnya kehidupan kita dengan tetap berpegang teguh dengan sunnah dan amal shalih,sama saja apakah dalam bentuk bersalam jabat tangan, atau dalam bentuk tulisan ,dengan telepon dan yang semisal.
Selengkapnya.....
18 December 2009
Tahun Baru Hijjriyah 1 Muhharram 1431 H
Posted by GMithone at 7:44 AM 0 comments
Labels: Religion
17 October 2009
Mengapa Beda Pendapat Tentang Penentuan HARI RAYA IDUL FITRI Selalu Terjadi ?
Hampir setiap tahun, saat Hari Raya Idul Fitri menjelang, selalu timbul perdebatan tentang penetapan jatuhnya hari raya tersebut. Beruntung umat muslim di Indonesia tergolong toleran satu sama lain hingga tidak terjadi gontok-gontokan antara orang-orang yang beda pendapat.
Sebenarnya perbedaan penentuan tersebut telah berlangsung lama. Dan akar dari perbedaan itu adalah perbedaan metode dalam menetapkan tanggal jatuhnya Hari Raya Idul Fitri. Secara garis besar, perbedaan penentuan awal bulan itu terbagi menjadi dua metode, yakni:
Metode Ru’yat
Dalam metode ini penentuan awal bulan harus melalui ru’yatul hilal (penglihatan bulan baru) dengan mata/alat secara langsung pada tanggal 29 sore menjelang maghrib (tahun Hijriah).
Jika ternyata hilal/bulan baru tersebut tidak berhasil dilihat, maka bulan tersebut disempurnakan / digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari (hingga tanggal 30). Artinya belum masuk bulan baru, meski hasil hisab menunjukkan hilal di atas ufuk ketika matahari tenggelam.
Dasar : HR Bukhari Muslim, tentang ru’yat menentukan awal puasa.
Metode Hisab
Dalam metode ini penentuan awal bulan cukup menggunakan hasil perhitungan hisab/ilmu falak/astronomi. Jika menurut hasil hisab/perhitungan menunjukkan hilal/bulan di atas ufuk ketika matahari tenggelam, maka hari berikutnya sudah masuk tanggal satu. Walaupun hasil ru’yat tidak berhasil melihat bulan baru tersebut.
Dasar : Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. (QS. 55:5), dan lain-lain ayat tentang. fungsi bulan sebagai perhitungan)
Hal lain yang mendasari penggunaan hisab sebagai metode penentuan. Terkadang posisi suatu tempat membuat proses ru’yat amat sulit dilaksanakan. Gangguan cuaca pun sering menjadi penghalang bagi proses penentuan ini. Bendasarkan pada beberapa faktor diatas, maka beberapa pihak lebih memilih menggunakan metode hisab.
Lalu bagaimana Anda sebagai umat muslim menyikapi perbedaan ini? Hmmm. Itu semua terserah Anda, silahkan menentukan sendiri mau mengikuti metode yang mana. Yang paling penting, Anda mengetahui dasar-dasar perbedaan itu, atau dengan istilah lain “kita paham dengan ilmunya”.
Ada cerita unik tentang perbedaan ini. Mungkin Anda pernah mendengar kisah pengutusan para Sahabat Nabi ke Perkampungan Bani Quroizhoh. Sebelum berangkat, Rasulullah SAW berpesan kepada para sahabatnya begini:
”Janganlah ada seorang pun dari kalian yang mengerjakan shalat Ashar, kecuali setelah sampai di Bani Quroidzhoh!”
Demikian pesan Rasulullah SAW kepada mereka. Namun, di tengah perjalanan, masuklah waktu shalat Ashar. Para sahabat kemudian berbeda pendapat. Ada yang berpendapat bahwa mereka harus tetap shalat pada waktunya.
Menurut penafsiran mereka perintah Rasulullah itu agar para Sahabat mempercepat perjalanan sehingga bisa sampai di Bani Quroizhoh ketika waktu Ashar. Merekapun kemudian shalat di tengah jalan.
Sahabat yang lain lagi memahami berbeda. Mereka berkesimpulan bahwa mereka dilarang shalat, kecuali di Bani Quroizhoh. Sehingga merekapun tidak ikutan shalat. Mereka baru melaksanakannya ketika sudah sampai di Bani Quroizhoh.
Kemudian setelah itu, merekapun menyampaikan hal ini kepada Rasulullah SAW. Namun Rasulullah tidak memarahi mereka karena berbeda pendapat dalam masalah ini. Rasulullah SAW hanya tersenyum, alias tak ada yang salah dari keduanya.
Sehingga dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Islam memberi keleluasaan dalam masalah-masalah fikih yang seperti ini. Mari kita bijak dalam perbedaan. Tak perlu saling berselisih.
Lalu bagaimana dengan Anda, metode manakah yang Anda pilih ?
Selengkapnya.....
Posted by GMithone at 4:38 PM 1 comments
Labels: Religion
25 January 2009
Detik-detik Rasulullah SAW menjelang sakratul maut
Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.
Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah :
"Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.
"Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu.
Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia.
Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.
Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
"Bolehkah saya masuk?" tanyanya.
Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.
Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang.
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah.
Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril.
Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi.
"Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku :
'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Lirih Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka.
"Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
"Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi.
"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.
"Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu."
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"
Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya?
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi
******************************
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Sampaikan kepada sahabat-2 muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencinta kita.
Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.
Selengkapnya.....
Posted by GMithone at 1:04 PM 0 comments
Labels: Religion
